Psikodinamika Gangguan Panik
Psikodinamika Gangguan Panik
Teori Psikoanalitik:
- Teori psikoanalitik memandang serangan panik sebagai akibat dari pertahanan yang tidak berhasil dalam melawan impuls yang menyebabkan kecemasan. Apa yang sebelumnya merupakan suatu sinyal kecemasan ringan menjadi suatu perasaan ketakutan yang melanda, lengkap dengan gejala somatik. Pada agorafobia, teori psikoanalitik menekankan kematian orangtua pada masa anak-anak dan suatu riwayat kecemasan perpisahan (separation anxiety). Sendirian di tempat publik menghidupkan kembali kecemasan masa anak-anak tentang ditelantarkan. Mekanisme pertahanan yang digunakan adalah represi, pengalihan (displacement), penghindaran, dan simbolisasi. Perpisahan traumatik selama masa anak-anak didapati sistem saraf anak yang sedang berkembang dalam cara tertentu sehingga anak menjadi rentan terhadap kecemasan pada masa dewasanya.
- Banyak pasien menggambarkan serangan panik berasal dari kesedihan, seakan-akan tidak ada faktor psikologis yang terlibat, tetapi penggalian psikodinamika seringkali mengungkapkan suatu pemicu psikologis yang jelas untuk serangan panik. Walaupun serangan panik adalah berhubungan dengan secara neurofisiologis dengan lokus sereleus,onset serangan panik biasanya berhubungan dengan faktor lingkungan atau psikologis. Pasien dengan ganguan panik memiliki insidensi yang lebih tinggi peristiwa kehidupan yang penuh ketegangan, khususnya kehilangan, dibandingkan dengan kontrol dalam beberapa bulan sebelum onset gangguan panik. Selain itu, pasien biasanya mengalami penderitaan yang lebih berat tentang peristiwa kehidupan dibandingkan kontrol.
- Hipotesis bahwa peristiwa psikologis yang menyebabkan stres menghasilkan perubahan neurofisiologis pada gangguan panik mendapatkan dukungan dari penelitian tentang kembar wanita. Penemuan penelitian mengungkapkan bahwa gangguan panik adalah berhubungan kuat dengan perpisahan parental dan kematian parental sebelum usia 17 tahun. Perpisahan dari ibu pada awal kehidupan jelas lebih mungkin menghasilkan gangguan panik dibandingkan perpisahan paternal di dalam kohort 1.018 pasangan kembar wanita. Dukungan lebih lanjut terhadap mekanisme psikologis di dalam ganggguan panik berasal dari penelitian pasien gangguan panil yang berhasil diterapi dengan terapi kognitif. Sebelum terapi, pasien berespon terhadap induksi laktat dengan suatu serangan panik. Setelah terapi kognitif yang berhasil, infus laktat tidak lagi menyebabkan serangan panik.
- Peneliti menyatakan bahwa penyebab serangan panik kemungkinan melibatkan arti bawah sadar peristiwa yang menegangkan dan bahwa patogenesis serangan panik mungkin berhubungan dengan faktor neurofisiologis yang dipicu oleh reaksi psikologis. Klinisi psikodinamika harus selalu melakukan pemeriksaan yang lengkap tentang kemungkinan pemicu bilamana suatu penilaian diagnostik sedang dilakukan pada seorang pasien dengan gangguan panik.
(Rujukan: Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Kaplan Sadock Jilid II, Editor: Harold I. Kaplan, M.D., dkk, Edisi Ketujuh, Alih bahasa: Dr Widjaja Kusuma, Binarupa Aksara, 1997, hal 19-20)
Komentar
Posting Komentar